Buntut Larangan Salat di Masjid, Warga Salat Tarawih Berjamaah di Rumah

ⓘ Sejumlah warga melaksanakan salat tarawih berjamaah di salah satu rumah warga di Kelurahan Wumialo, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, Sabtu (25/4). (foto:Jalal Khan/Gorontalo Post)

Gopost.id, GORONTALO – Tak ada rotan akarpun jadi. Saat Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau peniadaan salat berjamaah di Masjid termasuk salat tarawih di bulan suci Ramadan, masyarakat tak kehilangan akal untuk tetap melangsungkan salat tarawih berjamaah yang mengumpulkan orang banyak.

Buktinya, salah satu rumah warga di Kelurahan Wumialo, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo, menjadi lokasi salat tarawih berjamaah bagi masyarakat sekitar. Meski dalam imbauannya, MUI meminta agar salat tarawih yang dilangsungkan di rumah, cukup hanya diikuti oleh keluarga inti. Untuk mencegah potensi penularan Covid-19.

Dari informasi yang dirangkum Gorontalo Post, pelaksanaan salat tarawih berjamaah yang berlangsung di salah satu rumah warga di kelurahan Wumialo itu, telah berlangsung sejak hari pertama Ramadan pada Jumat (24/4).

“Himbauannya kan salat tarawih berjamaah saja di rumah bersama keluarga, jadi kami mengikuti imbauan itu,” ujar Shojo pemilik rumah yang di jadikan tempat salat berjamaah kepada wartawan koran ini.

Shojo menyampaikan jamaah yang mengikuti salat tarawih tersebut semuanya adalah keluarganya. Jadi menurutnya dirinya tidak melanggar imbauan pemerintah.  Soal warga lain yang ikut salat berjamaah di rumahnya, Shojo mengaku itu bukan karna ajakannya.

Tapi keinginan warga itu sendiri. Ia juga menyampaikan walaupun berada di lingkungan rumahnya, dirinya beserta jamaah salat tarawih yang lain tetap mengikuti imbauan pemerintah. Yakni tetap menggunakan masker dan membawa sajadah sendiri. Bahkan di depan rumahnya telah disediakan tempat cuci tangan.

“Jadi hanya salat tarawih saja, keluarga-keluarga ngumpul untuk salat berjamaah, sedangkan untuk salat lima waktu di rumah masing-masing,” ujarnya. Senada dengan pemilik rumah, Dewi (37) salah satu jamaah yang mengikuti salat tarawih tersebut mengatakan apa yang dilakukan dirinya dan warga lainnya adalah murni untuk ibadah, bukan untuk menentang atau melawan pemerintah.

Ia mengatakan sejak dirinya mulai mengenal salat, yang ia tau salat tarawih itu dilakukan berjamaah, jadi agak sulit merubah kebiasaan itu. Ditambah lagi dirinya kurang mengetahui susunan surat yang harus di baca pada setiap rakaatnya. “Kalo salat 5 waktu so biasa salat sandiri, mar kalo tarawih bingo mo mulai di mana,” ungkapnya saat di wawancarai wartawan koran ini, usai melaksanakan salat tarawih dirumah tersebut, Sabtu (25/4).

Tidak jauh berbeda Oslan (41) jamaah tarawih dan sekaligus warga setempat juga mengeluhkan hal yang sama. Dirinya bingung ketika melaksanakan salat tarawih di rumahnya sendiri. Mulai dari surat-surat yang harus di baca dan doa yang akan dibaca di setiap dua rakaat maupun empat rakaatnya serta doa di penghujung rakaat sebelum pelaksanaan salat witir. “Kalau pelaksanaan salatnya saya tau, hanya saja doa-doa dan surat-surat yang di bacakan yang bikin saya bingung. Dari pada saya salah dan berdosa, mending saya salat berjamaah saja,” ungkapnya. (tr-70)

Social profiles